Fungsi MS Word

21/06/09 at 3:16 am (Uncategorized)

Sebagaimana yang kita ketahui, MS WORD dipergunakan untuk membantu pembuatan dokumen berupa laporan ataupun makalah. Namun, adakalanya kita lupa memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada dalam  MS WORD, padahal dengan memanfaatkan fasilitas tersebut dapat membantu mempercepat pembuatan dokumen. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali (terutama untuk saya pribadi) berbagai fasilitas yang ada dalam MS WORD.

  1. Jenis huruf
  2. Agar dokumen yang dihasilkan tidak terlalu banyak mengalami editing dalam masalah “font”, sebaiknya tentukan dulu default font yang akan dipergunakan. (Menu Home+ Font)

  3. Pembuatan Numbering
  4. Biasanya, pembuatan suatu dokumen mengacu kepada peraturan tertentu dalam pembuatan dokumen (misal Bab I Pendahuluan, Bab II Tinjauan Pustaka). Oleh karena itu, harus didefinisikan terlebih dahulu mengenai numbering yang sesuai dengan peraturan pembuatan suatu dokumen.

  5. Pembuatan Outline
  6. Biasakan bekerja dengan dokumen view berupa Outline. (Menu View + Document Views + Outline). Hal ini akan memudahkan kita untuk membuat poin-poin penting yang akan dituangkan dalam dokumen. Pembuatan dokumen dalam bentuk outline, minimal sampai dengan level 3. Ada kalanya pada saat perpindahan dari level 1 ke level 2 kita diharuskan untuk mengubah list level (Menu home+ Multiple List+Change List Level)

  7. Pemakaian Break Section
  8. Biasanya dalam suatu dokumen  terdapat perbedaan jenis penomoran halaman untuk tiap section (misalnya : halaman sampul biasanya tidak ada nomor halaman, Kata Pengantar & Daftar Isi & Daftar Tabel diberi nomor halaman jenis “i, ii, iii,…” ,  Bab I dst diberi nomor jenis “1,2,3…”) Oleh karena itu untuk setiap pergantian jenis halaman tersebut diberikan break section. ( Menu Page Layout +Break +Next Page).

  9. Penomoran Halaman
  10. Seperti yang telah disebut pada poin 4, maka penomoran halaman akan menggunakan fasilitas break section. Setiap section diberi nomor halaman seperti yang dikehendaki ( Menu insert + Page Number + Format Page Number + Page numbering + start at  … kemudian pilih letak nomor halaman bottom atau top of page) khusus halaman sampul, biasanya tidak ada nomor halaman, oleh karena itu header/footer nya perlu diedit (Menu insert + header/footer + edit header/footer + Design + pilih different first page)

  11. Pembuatan Daftar Tabel
  12. Tabel/Gambar/Bagan yang dibuat diusahakan diberi caption yang terdiri dari judul bab dan nomor gambar. (Menu References + insert Caption… pada option pilih label yang diinginkan, hilangkan tanda centang pada exclude label from caption). Untuk pembuatan daftar tabel/gambar/bagan maka pilih menu references + insert table of figures) maka daftar tabel dapat muncul secara otomatis. Apabila ada perubahan posisi halaman pada tabel/gambar/bagan, maka daftar tabel tinggal diklik kanan pilih update field.

  13. Pembuatan Daftar Isi
  14. Pembuatan daftar isi secara otomatis adalah dengan memilih references + table of contents. Apabila ada perubahan dalam letak halaman maka daftar isi tinggal di update (sama seperti update daftar tabel)

  15. Editing dengan Document Map
  16. Agar editing yang dilakukan dapat dilakukan dengan cepat maka dapat memanfaatkan fasilitas document map (Menu View + document map). Dengan fasilitas ini, perpindahan halaman yang akan diedit dapat berlangsung lebih cepat)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Manajamen Waktu

14/05/09 at 2:45 pm (Uncategorized)

Beberapa hari ini, perhatian saya tersita oleh tulisan tentang manajemen waktu, yang membuat saya sadar ternyata saya adalah manajer yang buruk untuk urusan waktu, penyakit utama adalah menunda pekerjaan. Dengan berbagai alasan saya selalu mencari pembenaran akan alasan saya menunda semua hal termasuk  untuk urusan perut ( he he..) pada hal perut sudah berbunyi saya selalu bingung mau makan apa dan di mana.

Hal ini ternyata membuat saya terbiasa dan menganggap biasa saja,  padahal inilah awal dari ketidakmampuan saya memanajemen waktu dengan baik. Sesuatu yang besar tentu dimulai dari hal kecil,  contohnya diatas tadi.

Prinsip pengambilan keputusan tentu tidak hanya harus dipikirkan dengan matang tetapi juga harus memperhatikan waktu, bayangkan kalau untuk urusan menentukan mau makan dimana membutuhkan waktu yang lama bisa pingsan karena menahan laparkan, nah mulai sekarang saya mencoba melatih diri saya untuk mengambil keputusan yang cepat dan tentunya belajar juga untuk akurat supaya ngga perlu lama-lama nahan lapar ya,, (seperti iklan JK “lebih cepat lebih baik”  kalau buat saya iklan ini cocok pada saat sedang lapar dan bingung mau makan apa….

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Magic Eye

16/04/08 at 4:19 am (Others) (, , )


Gambar apa yang tersembunyi dibalik gambar sebenarnya? Bisa liat? Itulah magic eye
Pernah dengerkan istilah magic eye , istilah itu sempat popular di tahun 93-an. Istilah itu adalah merujuk pada suatu gambar 3 dimensi yang tersembunyi di balik gambar. Yah mirip dengan steganography lah kalo dalam masalah security. Semua orang bisa menikmati keindahan dari gambar magic eye ini. Hanya dengan sering berlatih dan selalu fokus pada gambar adalah kuncinya. Ada berbagai macam teknik untuk menikmati gambar tersebut. Kalo saya memakai teknik jari telunjuk untuk pertama kali. Adapun langkahnya sebagai berikut :
1. Duduk dengan tenang di hadapan gambar tersebut, usahakan serileks mungkin
2. Tunjuk gambar tersebut dengan jari telunjuk
3. Perlahan-lahan gerakan jari telunjuk tersebut bergerak mendekati hidung.
4. Tetap fokus pada jari telunjuk tersebut
5. Secara ajaib gambar di belakang jari telunjuk akan muncul dengan sendirinya.
6. Jangan paksakan mata, apabila belum berhasil tinggalkan dan coba ulangi lagi

Apabila kita telah terbiasa dengan teknik ini, maka secara otomatis kita akan melihat dengan cepat tanpa bantuan jari tersebut. Kita dapat memperoleh gambar magic eye tersebut di disini . Gambar diatas adalah gambar

Permalink 2 Komentar

Blue Ocean Strategy

10/04/08 at 4:46 am (Others) (, , , )

Cover BOS

Saat ini sulit kiranya membahas tentang inovasi tanpa menyentuh konsep blue ocean strategy (BOS). Konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne dari Insead tersebut sudah menjadi istilah yang populer dewasa ini. Sayangnya, popularitas tersebut juga diiringi dengan salah pengertian terhadap definisi BOS sendiri. Pada banyak kasus, BOS sering disamakan dengan strategi differentiation produk. BOS memang menghasilkan produk yang differentiated, tetapi tidak semua differentiation adalah BOS. Kesalahpahaman kedua istilah ini malah kadang dilakukan oleh media massa termasuk majalah bisnis.

Di mana letak perbedaannya? Dan apa sebenarnya BOS itu sendiri?

Kita ambil contoh industri mobil di Indonesia. Di segmen mobil kecil, misalnya, kita melihat persaingan antara Honda Jazz, Toyota Yaris, dan Suzuki Swift (belum termasuk mobil-mobil Korea lainnya dari KIA dan Hyundai). Dalam persaingan, ketiganya berusaha menempatkan posisinya secara berbeda. Jazz sebagai pendatang lama dan penguasa pasar relatif tidak perlu bersusah payah mendefinisikan dirinya secara unik karena kategori mobil kecil ini sudah lama diasosiasikan dengan Jazz. Tugas yang agak berat harus disandang Swift dan Yaris yang datang belakangan. Yaris misalnya berusaha memposisikan dirinya sebagai mobil lifestyle yang groovy, sementara Swift berusaha menempatkan dirinya sebagai mobil kecil untuk kalangan cowok. Contoh di atas adalah contoh strategi differentiation karena ketiga produk tersebut berusaha menciptakan persepsi yang berbeda di benak konsumen, walau sebenarnya mereka semua berusaha mengambil segmen konsumen yang nyaris sama. Di sini, meski berbeda, semuanya masih bersaing di arena yang oleh Kim dan Mauborgne disebut red ocean.

Lalu apa contoh BOS? Kembali ke industri otomotif di Indonesia, contoh terbaik BOS yang bisa saya pikirkan adalah Avanza/Xenia. Mengapa? Alasan utamanya karena produk ini berhasil menciptakan kategori sendiri yang sebelumnya tidak terjangkau. Avanza/Xenia menggabungkan manfaat mobil kecil (yang hemat BBM), mobil Korea (harga murah), mobil keluarga (ruangan yang relatif luas), layanan purna jual yang baik (lewat jaringan layanan purna jual Astra). Memang dalam upaya menggabungkan manfaat tersebut, Avanza/Xenia harus mengorbankan beberapa manfaat lainnya seperti kualitas dan kuantitas interior, dan desain model yang kelihatan agak kaku. Tetapi di sini Avanza/Xenia berfokus pada nilai-nilai manfaat yang paling dibutuhkan konsumennya seperti harga dan layanan purna jual.

Dari contoh di atas, kita bisa menyimpulkan bila strategi differentiation umumnya hanya berusaha menekankan perbedaan pada satu atau dua dimensi saja, strategi BOS merubah cukup banyak dimensi-dimensi yang menjadi basis utama persaingan. Seperti pada kasus Avanza/Xenia di atas, dimensi-dimensi yang diubah termasuk harga, pemakaian bahan bakar, luas mobil, sampai layanan purna jual.

Perlu dicatat, untuk menentukan apakah sebuah inovasi merupakan BOS atau bukan, sudut pandang yang harus dipakai adalah konsumen. Produsen bisa saja mengklaim produk (layanan) mereka sebagai hasil inovasi blue ocean, tetapi bila konsumen tidak melihat adanya manfaat baru yang berbeda drastis dengan solusi sebelumnya, produk tersebut tetap saja masuk ke daerah red ocean.

Salah satu tes litmus yang bisa dipakai untuk menentukan apakah sebuah strategi adalah BOS adalah dengan melihat apakah produk tersebut berhasil menarik konsumen baru dalam jumlah yang cukup besar. Konsumen baru tersebut sebelumnya tidak bisa (jarang) mengkonsumsi manfaat yang ditawarkan tersebut, entah karena masalah harga, masalah persepsi, atau karena masalah keahlian. Dalam kasus Avanza/Xenia, inovasi tersebut berhasil menarik konsumen yang selama ini ingin membeli mobil keluarga yang cukup berkualitas tetapi memiliki dana terbatas.

Contoh BOS lainnya bisa dibaca di buku Kim dan Mauborgne, Blue Ocean Strategy. Saya akan mengutip 1 contoh dari buku tersebut untuk memperjelas konsep BOS tersebut. Southwest Airlines, perusahaan penerbangan berbiaya rendah dari US adalah contoh yang akan dipakai. Tetapi perusahaan tersebut bisa saja diganti dengan Air Asia karena dari semua perusahaan penerbangan di Indonesia, strategi Air Asia yang paling mendekati Southwest Airlines. Southwest menciptakan kurva manfaat baru yang berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya, manfaat yang ditawarkan perusahaan penerbangan (selain menerbangkan orang dari kota A ke kota B) adalah layanan yang baik di pesawat (seperti makanan/minuman dan snack), kesempatan menentukan tempat duduk, fasilitas lounge, dan lebih cepat tiba di tujuan (dibanding dengan mobil). Di sisi lain, transportasi darat yang juga berfungsi memindahkan orang dari kota A ke kota B tidak menawarkan semua manfaat-manfaat di atas, tapi yang pasti berbiaya lebih rendah. Nah, Southwest berhasil menggabungkan antara kecepatan penerbangan dengan biaya murah yang ditawarkan mobil. Untuk mencapai hal tersebut, layanan-layanan yang tidak perlu dibuang. Model bisnis dan struktur biaya Southwest juga berbeda sama sekali dengan perusahaan penerbangan lainnya kala itu. Misalnya, Southwest membeli hanya 1 model pesawat yang mempermudah proses maintenance dan pelatihan pilot.

Inilah inti dari BOS: menawarkan kurva manfaat baru untuk konsumen dengan membuang manfaat-manfaat yang tidak penting. Karena BOS ini membutuhkan model bisnis dan struktur biaya yang berbeda dengan pemain konvensional lainnya, meski kelihatan sederhana, produk baru tersebut umumnya sulit ditiru oleh pemain lama yang sudah terlanjur terbiasa dengan model dan struktur lama. Yang menjadi ancaman justru pemain baru lainnya yang belum memiliki beban apa-apa. Southwest sendiri memang berhasil menangkal ancaman dari pemain-pemain lama seperti Continental atau Delta, tetapi ancaman sebenarnya mulai datang dari pemain baru seperti JetBlue. Pada akhirnya, (hampir) semua strategi blue ocean akan berubah menjadi red ocean juga. (Saya katakan ‘hampir’ karena untuk beberapa kasus yang memungkinkan terjadinya monopoli natural seperti eBay, keunggulan perusahaan tersebut bisa bertahan lama sekali, kecuali ada campur tangan dari pemerintah atau badan regulasi lainnya seperti yang pernah terjadi pada kasus AT&T atau Telkom Indonesia.) Jazz sendiri awalnya juga berada di zona blue ocean, relatif tanpa persaingan sampai tibanya Yaris dan Swift.

Menciptakan BOS tidaklah mudah. Selain karena menawarkan kurva manfaat baru dengan biaya rendah membutuhkan kreativitas dan kemampuan pengamatan yang tinggi, BOS sering memaksa kita membongkar ulang sistem kepercayaan kita sebelumnya. (Karena itu, BOS justru lebih sering diciptakan oleh para pendatang baru yang belum bergelut di industri bersangkutan, yang sistem kepercayaannya tentang apa yang harus (tidak boleh) dilakukan di dalam industri tersebut terbentuk.) Akan tetapi, BOS bukanlah satu-satunya konsep untuk berinovasi. Bila Anda tidak bisa menciptakan BOS, Anda tetap bisa memilih cara lain untuk berinovasi.

Ada seribu jalan menuju Roma (gantilah kata ‘Roma’ dengan ‘inovasi’).belum

Sumber :http://www.itpin.com

Permalink 5 Komentar

Jajan di Stasiun Bandung

07/04/08 at 7:17 am (Others) (, )

Pernah beli somay di depan stasiun kereta bandung? tempatnya di depan pagar keluar sebelah utara. Somaynya sih terasa biasa aja, isinya paling 3 buah somay dengan ukuran agak besar, tapi harganya selangit. Saya kaget waktu  bayar, katanya Rp.14.000,-, padahal cuma pesan somay ama teh tawar.

Setelah ditanya lebih jauh ama mamang somay, ternyata harganya perbuah Rp.3.500 dan teh tawarnya Rp.3.500. Alamak jauh dibawah harga D’Cost di setia budi. Disana teh tawar cuma 500 sepuasnya. Kalo tahu gitu saya beli Batagor Riri aja. Dengan pengalaman itu, saya agak trauma untuk jajan di pinggir jalan di kota Bandung. Akhirnya saya mesti bertanya dulu kalo memang ingin jajan, berapa harga satu porsinya.

Apa di Bandung semua pedagang di pinggir jalannya suka nembak harga yah ?

Permalink 7 Komentar

Jadi Pimpro, Oh no!?

12/03/08 at 1:10 pm (Project Manager)

Pada saat ini, hampir semua orang enggan untuk menjadi project manager. Kenapa? konon katanya, walaupun kita telah 10 tahun memimpin suatu proyek, maka masih ada kemungkinan kita untuk tetap dimintai keterangan oleh KPK. Istilah lainnya adalah menjadi “saksi”. Namun demikian , apakah kita menjadi takut? Justru hal ini akan membuat kita bekerja untuk lebih jujur dan ikhlas dalam mengerjakan suatu proyek.

Permalink 2 Komentar